Wis-Uda-h  

Posted by: Unknown


Wah uda lama nih nggak ngepos hehe maklum kemarin-kemarin sibuk ngurusin munaqosah lanjut revisi dan ribet harus penuhin persyaratan wisuda. Finally…bisa dengan lantang I say Alhamdulillah. Alhamdulillah telah Allah beri kelancaran serta kemudahan disetiap jengkal prosesnya. Alhamdulillah ya Allah semoga berkah dan barokah ilmu yang saya peroleh, aaminn.

Wisuda udah di depan mata. Momen yang saya nanti-nanti bahkan ketika awal masuk kuliah di semester pertama, bayangan memakai toga sudah terangkai indah dipikiran saya. Ah tak apa lah dibayangain yang indah-indah dulu biar jadi penyemangat kuliah hehe. Ingat jelas, saya menuliskan beberapa doa spesial di buku harian saya dan salah satunya adalah lulus dan wisuda tahun 2014. Allah Maha Pengabul doa, doa apapun yang kita panjatkan akan diijabah olehNya meskipun tidak semua terkabul dengan apa yang kita inginkan tetapi pasti Allah akan menjawab doa kita dengan caraNya yang selalu indah. Dan kali ini Allah mengiijabah saya lulus dan wisuda di tahun 2014. Alhamdulillah..

Tetapi alasan terkuat adalah saya pengen merajut senyum merekah untuk abah dan ibu di hari wisuda saya nanti. Dua orang yang sangat berarti dikehiduoan saya…

Wisuda apa wis-uda-h?? hehe :)


I’m coming 08 Nopember 2014 :*

Undangan Keberkahan  

Posted by: Unknown


“Ramadhan seolah menjadi jembatan yang akan mengantar kita merengkuh jarak yang paling dekat dengan yang Maha Mencinta”

Setiap kali hendak memasuki bulan Ramdahan, pastilah hati ini berdebar-debar. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa gugup, ada kecemasan, ada rasa penuh harap. Tak bisa terkatakan.

Ramadhan laksana sebuah undangan dari sang Maha Kekasih untuk para pecinta. Ramadhan seolah sebuah gerbang menuju sebuah kota, tempat dimana cinta melimpah, rindu mengobak bergulung-gulung dan segala kebaikan menyebar di segala arah.

Kini kita berada pada batas yang mengabarkan sebuah kemuliaan yaitu akan datang dan sekali lagi kita beruntung bertemu Ramdhan.

Bila diibaratkan, bayangkanlah saat ini kita mendapat undangan, untuk datang bertemu dengan seseorang yang kita anggap mulia dan selalu kita impi-impikan untuk bertemu. Mungkin contohnya presiden, jenderal, atau mungkin juga seorang ulama terkenal, yang mengundang kita pergi bersamanya. Dalam pertemuan itu, kita bertanya apa saja kepada sang tuan. Kita bisa mengadukan hampir segala uneg-uneg yang ada. Kita bisa bercengkrama bisa sharing sehari penuh, tanpa ada yang mengganggu.

Segala persiapan tentu akan kita lakukan. Dari memilih baju yang paling indah sampai menyiapkan daftar kata-kata. Dari berbenah diri sampai menentukan posisi bicara. Kita tak bisa tidur memikirkan itu semua. Bahkan kita merakan waktu berjalan begitu lambat untuk sampai pada waktu yang ditunggu-tunggu itu.

Baiklah saya rasa sudah cukup perumpaannya. Karenaa…

Ramadhan lebih dari itu. Ramadhan lebih dari undangan, dari seorang raja sekalipun. Bahkan panggilan dari seorang presidenpun. Ramadhan adalah panggilan dari yang Maha Memiliki. Ramadhan adalah undangan dari Allah Rabbul Izzati untuk para pecinta Ilahi agar datang dan mendekat lebih dekat dan dekat lagi. 

Ramadhan adalah undangan Sang Maha Kekasih, untuk para kekasih-kekasihNya mengadukan kerinduan. Pada malam-malam hening, di dalam sujud dan rukuk, dalam takbir dan tahiyat. Ramadhan seolah menjadi jembatan kita utuk merengkuh jarak terdekat dengan yang Maha Mencinta. Berduyun-duyun merebut nikmat dan kebaikan seolah taka ada habisnya dan memang tak akan pernah habis.

Persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi undangan itu? Aaah hampir 10 hari pertama Ramdhan terlewat begitu saja. Apa saja rencana yang sudah terlaksana di beberapa hari yang lalu? Semoga Allah meridhoi semua langkah baik serta lantunan doa disetiap sujud kita selama undanganNya berlangsung.. Aamiin..

Sekali lagi..

Marhaban ya Ramadhan, peluklah aku dan keluargaku dalam ridho dan berkahmu. Aamiin..

 “Tulisan ini terinspirasi setelah saya membaca sebuah buku yang berjudul Living Islam. Kepada penulis hebat Herry Nurdi, terimakasih karena sudah menciptakan sebuah kumpulan kata yang sarat dengan ilmu baru, sangat bermanfaat bagi saya yang notabene jarang melahap tulisan tulisan Islam… Banyak ilmu baru yang saya pelajari dari karya hebat beliau. Tentunya mengenai Islam..”

Keep Reading Readers J

Semoga bermanfaat…

Jakarta, 05 Juli 2014 

Mengapa Berhijab?  

Posted by: Unknown

Tulisan ini adalah buah karya adik tercinta, Qori. Beberapa hari yang lalu dia menulisnya sebagai note di facebook dan menandai saya dalam tulisan ini. Setelah selesai membaca, langsung dapet ide buat ngepost tulisan ini ke blog saya, secara sudah lumayan lama saya nggak ngeposting tulisan-tulisan baru.

Sebuah tulisan yang menurut saya bagus tentang betapa pentingnya berhijab untuk kaum hawa. Semoga bermanfaat yaa….


25 Juni 2014 pukul 20:15
Bismillahi

Bagiku berhijab adalah sebuah KEWAJIBAN bukan hanya sekedar KEMAUAN sehingga harus menunggu kesiapan terlebih dahulu.
Berhijab sudah pasti berjilbab. Namun Berjilbab belum tentu berhijab.
Hijab adalah tameng/ pembatas/ penutup.
Hijab yang telah Allah tetapkan bagi wanita muslim yaitu Jilbab (pakaian kurung) dan Khimar (kain yang menutupi kepala hingga menjulur menutupi dada)

Bagiku..
Hijab bukti tanda taat seorang muslimah pada ketentuan Illahi Rabbi.
Hijab ku tanda baktiku untuk Abah dan Ibu.
Hijab ku tanda sayang ku pada kakak dan adik laki-laki ku.
Hijab ku tanda aku menjaga titipan yang Allah amanahkan atas diriku.
Hijab ku telah menseleksi lingkungan secara alamiah.

Aku memang belum baik, maka aku berusaha untuk menjadi lebih baik.
Salah satunya dengan patuhku pada aturan Allah yaitu berhijab.
Aku belum bisa membalas jasa Abah dan Ibu maka itu aku berhijab.
Aku tak ingin kebaikan-kebaikan orang tuaku hangus karena dosa dosa yang ku buat. 


Aku tak ingin perlahan-lahan mendorong Abah dan adik laki-laki ku ke neraka jahannam karena aku lalai akan Kewajiban Berhijab.
Hijab ku membuat aku tetap menjadi orang baik meski dikerumunan yang kadang tak mendukung.
Hijabku bukti tanda aku menjaga titipan yang Allah amanahkan padaku^^

KISAH EMPAT LILIN  

Posted by: Unknown


Rasanya sudah amat sering saya membaca kisah inspiratif ini. Entah itu disebuah acara motivasi atau di sebuah kajian-kajian yang tentu saja membahas tentang harapan. Dan lagi lagi kali ini saya dipertemuakan kembali dengan kisah empat lilin ini, tapi bedanya tak pada sebuah acara motivasi melainkan pada sebuah buku yang baru saya beli kemarin. Sebuah buku tentang pendidikan yang menjadikan kisah ini prolog dari buku tersebut. Hmm mengingatkan saya bahwa akan selalu ada harapan disetiap matahari terbit. Berikut kisahnya…….


Ada empat lilin yang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Yang pertama berkata: “Aku adalah Perubahan. Namun manusia tak mampu berubah, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang Lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Imam. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga berbicara: “Aku adalah Cinta. Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga……
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“Eh, apa yang terjadi?!
Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
“Jangan takut. Jangan menangis. Selama aku masih ada dan menyala, Kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: Akulah Harapan.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin harapan, kemudian menylakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati di dunia ini adalah Harapan yang ada dalam hati kita dan semoga masing-masing dari  diri kita dapat menjadi alat seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Cinta dan Perubahan dengan sebuah Harapan!

Kisah ini satu paket bagi para psimistis. Mereka harus sadar bahwa harapan akan selalu ada. ^^
 Juga saya. Kisah ini sebagai reminder diri untuk selalu menyalakan harapan di sebelum kata-kata putus asa terucap dari mulut.

#Lia

Jakarta, 05 April 2014 

Gumamanku Sampai di Jakarta  

Posted by: Unknown




Jakarta, 07 April 2012    


 Sudah menjadi tabiat burukku, selalu men-snooze alarm yang sudah aku setting dimalam sebelum beranjak tidur, padahal tujuannya agar bangun pagi tapi sungguh melawan syaitan-syiatan yang bergelayutan dikelopak mata ketika pagi menjelang adalah hal paling sulit.  

      Ditambah lagi cuaca pagi ini yang dibuka dengan berkah indah dari Sang Pemilik Alam. Hujan tadi malam masih betah rupanya singgah di Jakarta. Mendukung sekali untuk tetap merebahkan tubuh diatas kasur, setelah tiba-tiba ingat kalau ada kuliah pagi, cepat-cepat aku bergegas menuju kamar mandi. 

      Bismillahi tawakkaltu alallah lakhaula wala kuwwata ila billahil ‘aliyil adzim”, kulafalkan doa keluar rumah dan mantab dengan niat menimba ilmu menuju kampus tercinta. Ku genggam erat payung berwarna shoking pink sambil menyusuri jalanan komplek yang sepi, tidak seperti hari-hari biasanya yang ramai oleh para Ibu-ibu di tukang sayur langganan. 

      Hah bisa ditebak, jalanan menuju kampus pasti akan macet melebihi hari biasa ketika hujan datang. Ada sedikit “usaha tambahan” yang aku lakukan ketika angkot yang aku naiki tidak berjalan 1cm pun. Jalan kaki keluar dari daerah macet. Sudah biasa kulakukan. Karena aku percaya setiap langkah menuju niat baik pasti akan terhitung pahala di mata Allah, meskipun kepaksa juga sih hehe takut telat nyampe kampus. Ya itung-itung jalan-jalan pagi. Terkadang aku harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh, hmm kalian tahu daerah Pasar Bintaro? nah dari situ biasa aku mulai dan akan bermuara di daerah veteran tempat bus-bus merah Agra Mas menurunkan penumpangnya. Jaraknya sekitar 2 km.

        Tiba-tiba ingatan silih berganti datang menghiasi otakku, teringat dulu waktu SMA pernah aku bergumam sendiri ingin melanjutkan kuliah di Jakarta. Haha tertawa sendiri ketika mengingatnya. Ternyata Allah mendengar dan mengabulkan gumamanku..aaah bodohnya aku yang tak menyadari kalau setiap ucapan yang keluar dari mulut kita adalah sebuah doa. Aku hanya bergumam waktu itu, tidak serius berdoa dengan menengadahkan tangan meminta pada Sang Khalik untuk bisa kuliah di Jakarta. Allah Maha Mendengar, hanya sebuah gumaman saja sudah Allah kabulkan apalagi yang benar-benar serius berdoa..Alhamdulillah, gumaman yang berkah.      

      Dan perlu kalian tahu, kuliah di Jakarta adalah angan-angan indahku saja waktu SMA dulu. Memang Allah penentu segalanya,,yang mungkin bisa jadi tak mungkin, yang tak mungkin bisa jadi mungkin. Alhamdulillah.. kini banyak cerita yang Allah beri dari gumaman berkah di waktu SMA dulu :)))


NB: coretan kecil yang aku temukan di buku harian.